SIGN IN
SIGN UP
Press Esc to close
Press Esc to close
Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Portal Berita - Radio Streaming - Komunitas Anak Muda

Prediksi Ideas Kemukakan Pasien Corona Bisa Tembus 50 Ribu Pada Bulan Mei?

Minggu, 29 Maret 2020 19:04 by reinasoebisono | 720 hits
Prediksi Ideas Kemukakan Pasien Corona Bisa Tembus 50 Ribu Pada Bulan Mei?
Image source: JawaPos

DREAMERS.ID - Diprediksi jika Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah masih tetap memberi tindakan lunak, jumlah kasus infeksi vorus corona atau COVID-19 akan melonjak. Bahkan, satu lembaga memprediksi bisa tembus 50 ribu kasus pada Mei nanti.

Institute For Demographic and Poverty Studies atau Ideas memproyeksikan Indonesia akan tembus 2.000 kasus pada hari ke-35 atau pada 5 April 2020 mendatang. Lalu bisa tembus 10.000 pasien pada hari ke-50 yaitu pada 20 April 2020 atau menjelang Ramadhan yang jatuh pada 24 April 2020.

Bahkan, disebutkan oleh proyeksi Ideas jika kasus pasien positif virus corona bisa menembus 50.000 orang pada hari ke-61 (1 Mei 2020) via laman JawaPos.

“Berdasarkan pola penggandaan di berbagai negara, kasus infeksi korona mengalami ledakan eksponensial ketika di masa awal pandemi tidak dilakukan tindakan-tindakan tegas untuk menahan mobilitas dan interaksi orang yang masif. Proyeksi mengkhawatirkan ini mengharuskan adanya perubahan kebijakan yang drastis untuk menahan ledakan jumlah korban dan ini harus dilakukan secepatnya,” ujar Direktur Ideas Yusuf Wibisono berdasarkan rilis yang diterima Antara di Jakarta pada Sabtu (28/3).

Perlu diketahui jika kini Indonesia memasuki fase kritis dalam menghadapi pandemi corona, sejak pertama kali secara resmi mengumumkan kasus tersebut. Per 26 Maret 2020, ada 893 kasus positif terinfeksi corona di Indonesia dengan total pasien meninggal 78 orang. Dengan begitu, Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat kematian dari kasus infeksi tertinggi di dunia, yaitu 8.7%.

“Fatality rate (tingkat kematian) Indonesia yang kini 8,7 persen menunjukkan dua kemungkinan yang keduanya merupakan situasi darurat: Sistem kesehatan nasional telah mencapai batas kapasitas-nya, atau ketidaksiapan pemerintah menghadapi dan mendeteksi penyebaran wabah korona. Jika fatality rate di kisaran ‘normal’, dengan asumsi konservatif 3,5 persen, kasus infeksi korona yang sesungguhnya kini telah mencapai kisaran 2.229 kasus,” jelas Yusuf Wibisono.

Tindakan umum yang hingga kini dilakukan masih disebut lunak, yaitu berupa himbauan. Seperti kerja, belajar dan ibadah dari rumah, jaga jarak fisik dan restriksi lunak lain seperti meliburkan sekolah. Beberapa daerah telah menerapkan restriksi lebih luas seperti menutup tempat wisatata, melarang keramaian dan membatasi kegiatan ibadah.

Baca juga: Contek Tips Menolak Tamu Kala Pandemi Ala Imam Besar Istiqlal Nasarudin Umar

Yusuf Wibisono menilai, tindakan moderat jangka pendek dan tindakan tegas jangka menengah itu akan mencegah ledakan kasus infeksi korona secara signifikan (flattening the curve).

Pada hari ke-70 (10 Mei 2020), Ideas memproyeksikan dengan tindakan moderat kasus infeksi korona berada di kisaran 110 ribu kasus, namun dengan tindakan tegas dapat ditekan hingga kisaran 30 ribu kasus.

“Tindakan ini akan menjadi tidak berguna jika terlambat dilakukan. Dengan pola saat ini, tanpa perubahan kebijakan, kasus infeksi korona akan menembus 200 ribu kasus pada hari ke-70,” kata pimpinan lembaga think tank Dompet Dhuafa tersebut.

Melihat hal ini, Ideas menilai kondisi kini sudah memenuhi kedaruratan kesehatan masyarakat sehingga mendorong pemerintah pusat secepat mungkin mengambil tindakan tegas sesuai UU No. 6/2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

(i) Menetapkan Karantina Total Jabodetabek, Karantina Jakarta saja tidak memadai, karena telah bersatunya aktivitas warga Jabodetabek, dan (ii) Menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar di Jawa di luar Jabodetabek, terutama melarang aktivitas mudik/pulang kampung.

“Dalam jangka menengah (dua hingga tiga pekan), kami merekomendasikan: satu menetapkan Karantina Pulau Jawa secara total. Dengan kepadatan penduduk Jawa di kisaran 1.100 jiwa per Kilometer persegi, lima kali lipat lebih padat dari Italia, menjadi krusial membatasi aktivitas Jawa secara masif. Pembatasan Sosial Berskala Besar di Wilayah Indonesia selain Jawa. Dua, Meski kepadatan penduduk luar Jawa rendah, namun karena penyebaran wabah telah meluas di hampir seluruh wilayah, tetap dibutuhkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan penyebaran di luar Jawa,” kata Yusuf Wibisono.

(rei)

Komentar
  • HOT !
    Guinness World Records telah banyak mencatat rekor di dunia, salah satunya adalah pria tertua di dunia. Namun, pada Kamis (28/05) pria tertua di dunia bernama Bob Weighton dikabarkan telah meninggal dunia karena penyakit kanker....
  • HOT !
    Korea Selatan termasuk negara yang cukup berhasil melawan pandemi virus corona, walaupun saat ini sedang ada gelombang kedua dari kluster kelab dan karaoke. Presiden Moon Jae In pun memberikan update tentang apa saja yang sudah dilakukan pemerintah....
  • HOT !
    PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar di wilayah DKI Jakarta akan berakhir pada 4 Juni mendatang. Menyusul hal tersebut, puluhan pusat perbelanjaan atau mal dijadwalkan untuk buka sehari setelahnya....

BERITA PILIHAN

FAN FICTION
OF THE WEEK
Writer : indiraptrf
Cast : Catherine(oc), Kim Woojoong, Park Chanyeol, Park Jiyeon.

BERITA POPULER

 
 
 
^
close(x)